visit bandung 2010

Wisata ke Tangkuban Perahu, Ciwalini, Kawah Putih sampe Situ Patenggang BANDUNG

Tahun ini kami sekeluarga tidak mudik ke Makassar. Kami menghabiskan liburan lebaran ini di Jakarta saja. Setelah 2 hari bersilaturrahmi, kami sekeluarga merencanakan liburan ke Bandung. Bukan ke kota Bandungnya ya karena saya sudah memprediksikan dalam kota bakalan macet ma orang yang pengen berbelanja FO di bandung. Kita pengen menikmati suasana libuaran alam yang masih asri. Mulailah mencari data di google wisata apa aja yang bisa kita nikmati.

Saya ngedapatin data klo wisata alam di Bandung itu terbagi 2 lokasi yaitu ada di Bandung Utara dan ada juga di Bandung Selatan. Nah saya pengen menikmati semuanya itu, jadilah dibutuhkan waktu 2 hari untuk berwisata alam di Bandung. Tujuan pertama Bandung Utara ( Objek Wisata Gunug Tangkuban Perahu dan Ciater Pemandian Air Panas. Selanjutnya hari ke 2 ke Bandung Selatan, disini banyak banget mulai dari Agrowisata Strowberry, Ranca Upas, Pemandian air panas Cimanggu, Danau Kawah Putih, Kebun teh dan pemandian air panas Ciwalini, dan terakhir Situ Patenggang. Rencananya semua pengen dikunjungi dalam waktu 2 hari itu maruk deh.

Rencana pengen berangkat jam 6 pagi dari jakarta tapi ternyata baru beres dan berangkat jam 7 pagi. Ini pertama kalinya kami liburan menggunakan mobil pribadi, Alhamdulillah jadi nyaman karena bisa bawa keperluan sebanyak yang kita mau semua masuk ke mobil dan bisa beristirahat kapan aja. Pertama kalinya juga saya ke Bandung via jalan tol yang membuat orang2 jakarta sangat mudah ke Bandung sekarang2 ini bikin Bandung Poool banget selama bulan September (kek yang dibilang Ardan FM Bandung). Rasanya indah banget melihat pemandangan gunung, bukit, pohon, sawah selama perjalanan menuju Bandung. Ketika sampe di sekitar Bandung utara udah kerasa banget hawanya yang sejuk, airnya yang dingin. Memasuki lembang jalanan sudah macet, kami gk nyangka banyak juga ya yang datang berekreasi ke sini, kirain pada mudik semua hahaha…naif banget. Karena kebelet pipis, kami singgah dulu di tempat makan di “Kampung Baso” lembang. Rencana awalnya cuman pipis doang tapi ketika melihat fasilitasnya ada saung2nya, tamannya indah berbukit2, ada taman bermain yang bikin Rafi udah kebelet pengen main manjat2n akhirnya kami memesan makanan juga. Porsi bakso semangkok kecil Rp 10rb udah pesan 3 porsi masih berasa kurang aja karena asli mangkoknya kecil banget, cukup mahal klo dinilai basonya doang cuman klo ma suasananya worthed lah harganya. Untung Es campurnya lumayan enak ya jadi gk kecewa banget ma makanan yang sedikit tadi.

Perjalanan dilanjutkan, waktunya sholat dhuhur kami singgah di mesjid pinggir jalan. Ini baru kerasa ngambil air wudhu kayak air es…dingiiin banget. Lanjut perjalanan menuju Tangkuban Perahu, pengen singgah makan siang karena tadi cuman makanan pembuka tapi khawatir gk nyampe2 ke Tangkuban Perahunya. Tapi akhirnya mutusin singgah makan lupa deh nama tempat makannya tapi pas banget gk beberapa jauh dari tangkuban perahu. Tempat makannya indah, ada rumah2n, ada saung bertingkat2 lagi letaknya, ada flying fox. Tapi karena kami buru2 jadi gk bisa berlama2 disitu, pengen mengejar waktu agar bisa ke ciater juga setelah dari Tangkuban perahu. Setelah makan jalan sebentar ternyata udah pintu masuk ke Wisata Tangkuban Perahu. Bayar karcis masuk Rp 15.000/ orang jadi totalnya Rp 30.000. Rafinya gk dihitung. Katanya jalan pelan2 saja masih 5km ke dalam. OK kami ngikutin aja jalannya. Sayang jalan masuknya rusaknya parah, mobil seakan lagi “off the road”. Setelah berbelok2 dan agak mendaki saya pikir dah nyampe ke lokasi ternyata itu baru pemberhentian bus atau yang mo parkir mobil pribadi dan lanjut dengan alternatif berjalan kaki, naik ojek atau nungguin mobil “Dayang Sumbi”. Mungkin ini bayarya. saya juga kurang tau karena kami tetap memilih menempuh perjalanan dengan mobil pibadi. Mulai masuk aja udah macet mana menanjang dan berbelok2, dibutuhkan keahlian yang tinggi dalam menyetir di jalanan menanjak klo engga mobil akan mundur ke belakang dan menabrak mobil yang ada di belakang kita secara jaraknya berdekat2n karena macet. Setelah penuh perjuangan yang cukup melelahkan bahkan saya sudah mencoba turun dan berjalan kaki seperti pengunjung yang lainnya tapi tetap aja gk kuat secara masih jauh banget. Akhirnya sampe juga. Bagi suamiku itu suatu prestasi bisa nyetir sampe puncak dengan medan seperti ini. Hebat ya sayang….dan senangnya lagi pemandangannya Indaaaah banget. Kawahnya sangat dalam dan besaaaar. Subhanallah…Indahnya pemandangannya. Pertama kali datang kami disambut dengan hujan, berteduh sebentar agak reda kami turun ke kawah agar bisa lebih dekat lagi. Bau belerangnya udah sangat menyegat. Ada yang nawarin suvenir Topi dan scarf sepasang ditawarinnya Rp 25.000 ditawar jadi Rp 15.000. Saya juga membeli scarf yang lebih lebar dan lembut dengan harga Rp 10.000. Kabut mulai turun, dari mulut kami udah keluar asap ketika berbicara. Hujan turun lagi dan kami pun memutuskan untuk turun sebelum jalanan mulai gelap dan ternyata udah hampir tertutup kabut. Herannya masih ada juga yang naik padahal jam udah menunjukkan jam 5 sore.

Hari ini lumayan puas meskipun tidak bisa ke Ciater yang lokasinya masih di atas Tangkuban Perahu lagi. kami memutuskan menuju Bandung Selatan. Rencana awal menginap di Bandung Kota tetapi dengan melihat kepadatan pengunjung di Tangkuban Perahu kami pun memutuskan menuju Bandung Selatan Ciwidey agar bisa start pagi2 ke objek wisata selanjutnya. Dalam perjalanan pulang singgah dulu makan dan sholat magrib di Jasmine Cafe. Disini lumayan fasilitasnya, saungnya kereeen, ekslusif lah keliatanya ada tirainya dan ada TVnya juga. Yang paling saya senangi adalah fasilitas Mushollah dan kamar mandi yang bersih. Enak deh berinstirahatnya.

Menuju Ciwidey tidak semulus yang kami bayangkan. Ini lokasi yang belum pernah didatangin oleh suamiku yang secara 4thn lebih tinggal di Bandung waktu kuliahnya dulu. Kita hanya mengandalkan peta dan rambu2 petunjuk arah di jalan. Akhirnya kami pun kesasar dari Soreang malah nyasar ke banjaran sampe ke pareungpeuk. Kesasarnya itu sampe 20km jauh banget, mana udah capek pengen istirahat yang nyaman di hotel. Salahnya kami tidak booking hotel dulu. baru ingat di jalan dan menelpon hotel yang dituju Sindang Reret di ciwidey dan ternyata hotel dah penuh. Karena kesasar tadi kami tiba di Ciwidey jam 10 lewat, dan semua hotel atau penginapan yang kami singgahi penuh semua bahkan banyak yg sudah ditutup pagarnya. Dalam hati saya menenangkan diri, insyaallah dapat, yakin dapat penginapan malam ini. Untungnya Rafi sangat comfy banget klo diajak jalan, dia udah tidur dari tadi sehingga tidak menyadari kepanikan ayah bundanya yang tadi dah kesasar trus sekarang bingung cari penginapan. Kami terus naik dan sampe di Bungalaw Taman Strowbery udah yang paling ujung ternyata penuh juga. Kami diinfokan oleh satpam bahwa jika menginap ada tempat yang kosong, setelah diliat kayaknya kurang layak dengan ahrga semalamnya Rp 700.000. Kami pun memohon ijin baik2 agar mereka tidak tersinggung. Mungkin saja maksudnya baik tapi sepertinya aji mumpung juga karena melihat kita yang kemalaman dengan plat mobil B. Kami terus naik dan dapat penginapan tapi penuh juga, disini sama juga kami ditawarin rumah yang dijadikan penginapan sementara penduduk desa sana. Kami mutusin gk naik lagi ke atas dan putar balik, mungkin ada penginapan yang layak yg kelewat sambil berLOA. Alhamdulillah ada Villa yang menawarkan kamar untuk menginap. Tidak terlalu bagus paling engga ini semua dinding dan bertegel dengan harga Rp 250.000/ semalam. Ada tempat tidur yang muat untuk berdua dan Sofa panjang plus kamar mandi dalam. Lumayan lah daripada harus menginap di tempat yang tadi dengan harga yang gk masuk akal menurutku.

Keesokan harinya kami start jalan jam 8. Siangan dikit jalanan depan villa pasti udah penuh dengan mobil pribadi dan bus wisata yang besar2. Tujuan pertama antara Cimanggu atau ciwalini. Kata ibu pemilik villa, Ciwalini lebih bagus jadilah kita ke Ciwalini dengan melewati Cimanggu dan Kawah putih. Memang sengaja gk mandi habis air di Villa dingin banget jadi pengen berendam air panas. Kami masuk bayar Rp 20.000 jadi per orang ya Rp 10.000 selain itu dikasiin 2 bungkus teh Ciwalini. Maksud hati berendam air panas tetapi ternyata sampe sana penuuuuuuuuh banget dengan pengunjung. mana pada jorok lagi, sisa makanan, puntung rokok ada di mana2, malah dipinggiran kolam. Saya gk nyaman banget dengan suasananya jadi cepat2 saja biar mandi dan melanjutnya perjalanan ke objek wisata selanjutnya. Sebelum meninggalkan lokasi Ciwalini, gk lupa foto2 dulu di kebun teh hehehe.

Dari Ciwalini kami naik ke atas dan menurun ke Situ Patenggang. Setelah berkelok2 sampe juga di Situ Patenggang. Langsung disajikan pemandangan yang Indah, segar banget perasaan melihat danau yang teduh. Indah banget danauhnya dari atas pegunungan. Disini kami menyempatkan diri naik perahu mengitari pulau cinta. Mengenai objek wisata ini ada mitos masyarakat Patengan. Situ Patengan berasal dari Bahasa Sunda, pateang-teang yang artinya saling mencari. Mengisahkan cinta putra Prabu dan putri titisan Dewi yaitu Ki Santang dan Dewi Rengganis yang berpisah sekian lama dan mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang disebut batu cinta. Dewi Rengganis meminta dibuatkan sebuah danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersamanya. Perahu ini lah yang kemudian menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati. Konon menurut ceritanya, siapapun yang singgah ke Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara yang berbentuk hati maka akan mendapatkan cinta yang abadi. Hal inilah yang mungkin menjadikan Batu Cinta dan Pulau Asmara menjadi tempat yang membuat wisatawan menjadi penasaran. Luas danau adalah 48 Ha dan luas taman wisata adalah 17 Ha. Per orang dikenai biaya naik perahu Rp 15.000. Masuk ke kawasan situ patenggang membayar karcis Rp 10.000.-

Selanjutnya dari Situ Patenggang kami berbalik arah turun menuju Kawah Putih. karena melihat arus pengunjung, kendaraan yang mulai memadati ajalan ciwidey yang sempit, menanjak dan berbelok2 ini maka jadinya Kawah Putih menjadi objek wisata yang kami kunjungi terakhir. masuk bayar karcis Rp 15.000/ orang dan mobil Rp 4.000. Ternyata semuanya butuh perjuangan ya, sama seperti menuju lokasi Tangkuban Perahu, ini juga jalannya jauh ke dalam dan berbelok2. Mobil kami gk bisa sampe ke puncak karena jalannya penuh. Mobil pun diparkir di Loc T dan kami melanjutkan perjalanan dengan menumpang mobil fasilitas wisata dengan membayar Rp 2.000/ orang. Untung parkirnya agak di bawah ternyat menuju lokasi lebih menanjak dan curam apalagi jalanan yang sempit yang hanya muat dilalui 1 mobil padahal ada 2 arus yang naik dan turun. Sampai di kawah putih pemandangan gk kalah Indahnya. Indah- Indah gk terlukiskan dengan kata2. Yang penasaran buktiin sendiri aja deh. Setelah puas foto2 dan menikmati pemandangan kawah putih kami pun pulang. Rencana awal pengen nginap 1 hari lagi di Bandung Kota tetapi karena masih memungkinkan pulang kami pun pulang malam itu juga menuju Jakarta.

Sangat menyenangkan liburan keluarga kami kali ini, penuh petualanagn seru apalagi mengendara di jalanan berekelok2 dan menanjak, saya sampe gk mau ngeliat kaca samping jika pas lewat di pinggir jurang. Rafi jadi tambah pengetahuan tentang gunung, pohon, bukit, kebun strawbery, hutan, sawah yang indah dan bertingkat2 dan kebun teh yang teratur dan menghampar seperti karpet. Dengan berwisata seperti ini tidak perlu merogoh kocek dalam2, budget gak nyampe 1 juta juga bisa deh tapi klo keluarganya banyak mungkin beda lagi ya atau lebih hemat bawa bekal jadi gk perlu singgah makan di hari pertama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s